Frekuensi.co, Samarinda- Calon presiden (Capres) nomor urut 1, Anies Rasyid Baswedan, menggelar kampanye terbuka di kompleks Stadion Kadrie Oening Samarinda, Kalimantan Timur. Dalam orasinya, capres yang diusung oleh partai Nasdem, PKB dan PKS itu menyoroti ketimpangan pembangunan yang dinilai terjadi di provinsi tersebut.
Capres dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan mengumandangkan bawa waktu untuk perubahan telah tiba. Bukan sekadar mengganti foto presiden, tapi juga mengubah kebijakan yang berbasis pada prinsip keadilan dan kesetaraan.
“Sekarang waktunya perubahan. Perubahan ini bukan sekadar mengganti foto presiden, karena presiden pasti berganti, tapi mengubah kebijakan yang berlandaskan pada prinsip keadilan dan kesetaraan,” ungkap Anies ke ribuan massa yang hadir dalam kampanyenya tersebut.
Anis menegaskan, bahwa para warga Samarinda, Kaltim seluruhnya agar jangan menyiakan waktu pencoblosan 14 Februari 2024 mendatang. Satukan barisan untuk mendukung perubahan menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan.
“Jangan hanya ganti presiden saja, tapi kebijakan lah yang ditunggu masyarakat, karena keadaan semakin sulit, jangan sampai presidennya ganti tapi kebijakan tidak ganti justru merugikan rakyat,” pungkasnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu bercerita kepada ribuan massa, bahwa dirinya pertama kali ia ke Samarinda pada 1994 untuk memberikan pelatihan pada anak muda, dan menyaksikan ketimpangan dari dekat. Lalu, Anies mengirimkan guru-guru muda ke berbagai pelosok Kalimantan dalam program Indonesia Mengajar.
Namun, lanjut Anies, 30 tahun kemudian, tepatnya saat ia kembali ke Samarinda hari ini, problem itu masih belum terselesaikan.
“30 tahun kemudian, problem itu masih blm terselesaikan. Banyak masalah yang sebetulnya tak sulit. Masalah ketimpangan itu bukan hal rumit, tapi hanya tak jadi perhatian,” ujar Anies.
Kendaati Demikian Anis mengajak seluruh warga Kaltim agar mendukung perubahan sehingga masalah ketimpangan dapat diselesaikan cesara adil dan merata, sebenarnya ketimpangan itu mudah diselesaikan tapi hanya saja belum ada perhatian dan keseriusan.
“Kita ikhtiarkan supaya terjadi perubahan di Kaltim, dan juga Indonesia,” pungkasnya.
(Sip/jsn)

